Sabtu, 25 September 2010

KARTUN KEHILANGAN HABITAT?

     Kalau kita sempat memperhatikan sepak terjang seputar rubrik baik itu majalah ataupun koran di era 80 dan 90an, pasti merasakan ada sesuatu yang hilang di era sekarang. Dulu setiap hari minggu ada satu kolom yang selalu saya tunggu - tunggu. Setiap kali membaca koran / majalah, halaman yang pertama kali saya pelototin adalah rubrik kartun. Apapun itu judulnya, ketawa ha-ha-hi-hi, santai sejenak, intermezo, humor, kartun minggu, atau apalah namanya. Mungkin bisa dikatakan saat itulah kartun menemukan masa kejayaannya. Booming kartun ada dimana -mana. Hampir semua majalah atau koran selalu menyediakan ruang khusus untuk kolom kartun. Sebut saja koran Kompas, Jawa Pos, Suara Rakyat, Jayakarta,Kedaulatan Rakyat, Bernas, dan masih banyak lagi. Bahkan surat kabar sore Wawasan menampilkan kartunnya setiap hari, meskipun kartunnya di taruh di kolom paling bawah. Belum lagi majalah seperti Inti sari ( bulanan ), Senang, Ananda, Kartini dan yang lain juga  ikut ambil bagian. Bahkan Majalah sepereti humOr saat itu memberikan porsi yang dominan untuk kartun. Bisa di bayangkan betapa hiruk pikuknya jagad kartun saat itu. Tentunya yang paling di untungkan dalam hal ini adalah para kartunis dan karikaturis kita. Ibaratnya mereka seperti menebar benih kartun di banyak mass media, lalu menuai honor di akhir bulan.  Sungguh tidak mengherankan kalau saat itu seseorang bisa hidup hanya dari kartun. Kartun iso nguripi, ojo kwatir... begitu, kata Herry Wibowo kartunis kawakan dari majalah Joko Lodhang dan Kedaulatan Rakyat, yang nyambi jadi dosen ISI Yogyakarta. Dan memang kenyataan ini telah di buktikan setidaknya oleh Dwi koendoro, yang bapaknya Panji koming-kompas itu.
     Entah saya yang kurang gaul atau memang benar adanya, kalau saya katakan bahwa kartun saat ini telah kehilangan habitatnya. Kalaupun masih ada mass media yang bertahan untuk menampung kartun - kartun paling hanya tersisa  satu - dua saja. Misalnya seperti tabloid Bola dan Kompas.  Selebihnya,... lebih berpikir profit oriented, ketimbang menghibur orang. Artinya, mereka lebih welcome kepada iklan baris dan sponsor yang colourful yang jelas - jelas menyuntikkan dana, daripada memberikan ruang bagi kartunis untuk berekspresi yang ujung - ujungnya justru pada pembayaran honor ( padahal honor kartunis di negeri ini masih sangat jauh dari pantas di bandingkan di negeri orang ). Memang kalau kita lihat dari kaca mata sang redaktur koran / majalah, anggapan seperti itu tidak terlalu salah. Bahkan diharuskan untuk beridealis seperti itu, agar media mereka bisa terus eksis hingga akhir zaman. Betulkah?
     Bagi yang memahami ilmu media-marketing (cetak atau visual ) kartun /karikatur memiliki peran yang sangat penting bagi kelangsungan media tersebut. Identitas sebuah media biasanya di terjemahkan dalam sebuah maskot yang berupa kartun.  Lihat saja Om Pasikom, bang One,... siapa yang tidak kenal mereka? Bahkan maskotnya sendiri kadang lebih terkenal ketimbang media yang mengangkatnya itu. Lantas kalau ada yang beralasan agar bisa eksis, maka kartun harus lenyap dari halaman koran, rasanya kontradiktif sekali.
     Apa mungkin karena memang sekarang senyum sudah menjadi barang yang mahal, melebihi mahalnya barang sembako, sehingga ruang senyum di koran di batasi?  Atau beban bangsa ini yang  terlalu berat sehingga tidak sempat berpikir untuk membuat orang tersenyum? Entahlah.
Yang jelas para kartunis negeri ini seperti Tarsan yang kehilangan hutan. Lantas apa yang harus dilakukan?Satu - satunya jalan,  kartunis harus ambil jalan memutar. Jangan ambil verboden, apalagi parkir di tengah jalan. Masih banyak lahan yang masih bisa di garap oleh kartunis. Syaratnya jangan gaptek, mau maju, dan mau bersabar.    salam kartun!!